Friday, April 11, 2008

[ Cerpen - Asal Banget ] Bunga di Hati Lastri

Gelapnya jalan di areal kampus UIN Ciputat ini cukup bikin Lastri telat pulang. Loh kok? Iya, pasalnya Lastri jadi ngga jelas lihat nomor operasi angkutan kota yang melintas cepat di depannya. Sekalinya berhasil nyetop angkot, ternyata bukan jurusan yang ia kehendaki.

Kali ini entah yang keberapa kalinya ia menyetop angkot yang dimaksud. Akhirnya ia dapat juga, mobil putih yang mirip roti tawar itu. Memang, pada jam-jam seperti ini angkutan dengan nomor operasi 02 sudah cukup jarang, selain tentunya ia melewatkannya tadi.

Kakinya melangkah naik ke mobil itu, dengan kepala tertunduk agar tak terjedot pintu atasnya, Lastri masuk ke dalamnya. Berjalan ruku dan mencari tempat kosong. Yak!! dapat, batinnya. Ia pun segera duduk sebelum terhuyung karena angkot yang sudah mulai meluncur membelah jalan.

Kejadian beberapa jam silam membuatnya tersenyum-senyum saat ini. Diusianya yang masih terbilang muda ini, ia sudah ditawari 'calon' oleh kakak mentornya di SMA dulu. Sekarang, ia sendiri masih sering bertemu dengan kak Rohati, mentornya itu karena mereka masih mengabdikan diri di ROHIS sekolah itu.

"Semua terserah anti, ngga ada yang memaksa kok. Di istikhorohkan aja dulu, jangan terlalu buru-buru." kata Kak Rohati usai menyerahkan map coklat.

"Iya kak, ana mengerti..." dan hanya itu kata yang bisa Lastri ucapkan. Hatinya berdegup, Bibirnya kelu, perasaannya membuncah-buncah. Mudah-mudahan bumi tidak kiamat dulu...candanya sendiri dalam hati.

Tangan Lastri reflek mengurai jalinan tali map coklat di tangannya. setelah terbuka, Lastri tersadar bahwa kini ia tengah di angkot. Ops, tangannya kembali mengikat tali itu seperti semula.

Angkot malam itu begitu panas dirasanya. Ia segera membuka jendela yang ada dibelakangnya. O ow! kok susah ya? macet!
"Permisi mbak, biar saya bantu..."tawar seorang laki-laki yang duduk disampingnya
Lastri terbengong sesaat, wah...jadi aku duduk disamping seorang laki-laki toh, bisiknya dalam hati.
"Mbak? mau dibuka kan jendelanya?"ulang laki-laki itu
"Eh..Oh, iya iya.."jawab Lastri kaku. Hihihi...ini laki-laki familiar banget yah, kayaknya ikhwan deh, pikir Lastri mengembara. Ih jahil ah...tawanya sendiri dalam hati.

*****

"Jam 4 sore di rumah ana" demikian SMS dari kak Rohati
Fyuhh...hari ini Lastri benar-benar ndredeg. Ya! hari ini ta'aruf dilangsungkan. Haduh-haduh...berjuta rasa tertaburkan dihati Lastri. Mendadak ia jadi bingung, pake baju yang mana yah? Lastri tersenyum sendiri dalam hati.

Rumah kak Rohati tampak seperti taman hari ini. Seolah bunga-bunga bertaburan disetiap sisi tembok dan atapnya. Lastri jadi geli sendiri memikirkan tingkahnya hari ini. Kakinya sekarang seperti diikat beban 10 kilo besi, seperti yang biasa dikenakan narapidana di kartun-kartun, walaupun hatinya begitu mantap menyongsong saat-saat ini. Kebulatan hasil istikhoroh dan kesediaan keluarga yang turut mendukung menambah semangatnya.

"Assalamualaikum..."ucap Lastri takut-takut-malu
"Walaikumussalam warohmatulloh..."jawab suara dari dalam
"Masuk Ukh..."sambut kak Rohati ramah seperti biasa.
Begitu di dalam, Lastri larut dalam tundukan malunya. Benar-benar lumpuh rasanya leher Lastri. Susah sekali mendongak, sekalipun hanya untuk melirik 'calon'nya, dimana duduknya dan bagaimana wajahnya. Kebetulan Lastri sengaja tidak melihat lama-lama foto yang ada di map coklat minggu lalu. Lastri hanya membaca profile ikhwan yang disodorkan padanya. Biar greget pikirnya...kejutaaaannn..hehehe....

"Ukh...cari apa dibawah?" suara laki-laki terdengar dari seberang tempat duduknya.
"Yah?"tanya Lastri spontan sambil menatap wajah si penanya.
"Dug! waks...jantung Lastri serasa merosot ke dengkul saat ia bertatap muka dengan orang yang kini berpredikat 'calon' baginya. Huhuhuhu....maluuu....

Tapi kok, seperti kenal...pikir Lastri
"Hmm...ngga kok, lantainya bagus ya..."jawab Lastri asal *banget!*. Sengaja ia meluangkan waktu dan mencari alasan untuk bisa menegaskan pandangannya.
Hah!!? Orang itu...?

"Permisi mbak, biar saya bantu..."
"Mbak? mau dibuka kan jendelanya?"
"Eh..Oh, iya iya.."

Kejadian minggu lalu berjingkrak-jingkrak dipikirannya. So...dia....

0 komentar: