Friday, April 11, 2008

[ Cerpen - Asal Banget ] Jangan Tanyakan Hape

Hujan lebat mengguyur Jakarta malam ini, khususnya bagian Jakarta yang Linda diami sekarang. Jarum pendek Gucci mungil menunjuk tegas angka 7 dan jarum panjangnya sendiri persis menuding angka 12. Sudah 2 jam ia menunggu. Namun yang ditunggu belum menunjukkan tanda-tanda kedatangannya.

Ini hari pertama ia masuk kerja setelah seminggu lalu pernikahannya berlangsung. Suaminya memang mengizinkannya tetap bekerja, selain karena masih 'berdua', akhwat yang dicalonkan Linda untuk menggantikannya di apotek juga belum bisa masuk. Disamping itu, suaminya juga akan mengantar jemput Linda, jadi dirasa tak ada yang riweuh. Toh, Linda juga hanya tinggal menunggu penggantinya datang. Setelah itu, ia akan di boyong ke tempat tinggal suaminya. Tetangga kota Jakarta.

Jarum-jarum jam kian bergeser. Membawa temaram membungkus angkasa. Walau masih ada beberapa orang lalu lalang, tapi terasa hening bagi Linda, menunggu suaminya tercinta. Mata itu kini mulai berkabut, tinggal menunggu sebuah kerjapan saja ia akan longsor menggelundung, menjadi bulir mutiara bening yang meluncur cepat dan menabrak benda yang tepat di bawah titik jatuhnya.

Ragu hati Linda ingin membawa langkah kaki. Hari telah beranjak renta, tapi suaminya belum kunjung datang juga.

"Aduh, Akang kemana sih..." lagi-lagi kata itu terucap. Bergetar. Namun kali ini keluar dari bibirnya. Linda benar-benar menangis sekarang. Tak peduli orang lewat mau bilang apa.

Lelah berdiri, akhirnya Linda duduk, setelah bertekad akan terus berdiri sampai suaminya datang di hadapannya. Sebenarnya kakinya sangat ingin berlari pulang ke rumah, tapi ia takut suaminya nanti menjemput. Jarak Bogor - Jakarta Selatan memang tidak dekat. Kasihan jika suaminya tak mendapati ia menunggu manis di sini.

Di rumah tadi suaminya bilang akan sampai sekitar pukul 5, memang ini pengalaman pertama jemput menjemput di antara mereka, wajarlah telat sedikit. Tapi yang membuat Linda gemas adalah angka 2 jam lamanya ia menunggu. Harap, takut, cemas menjelma di benaknya. Segera ia tendang jika ada pikiran buruk yang menjawil kulit hatinya. Ia gantikan dengan doa dan harapan agar suaminya cepat datang. Dengan SELAMAT.

~oOo~

Kepala Linda kini tenggelam di kedua lututnya. Merembeskan air-air mata ke pori-pori rok hijau olivenya. Ia inginnya menyambut sang suami dengan senyum, karena ia tahu suaminya juga pasti lelah mengemudi Bogor - Jakarta. Setidaknya ia ingin suaminya nyaman memandangnya. Sedikit melepas penat meski sesaat.

Deru motor terdengar berhenti di depannya. Perlahan diangkat kepalanya. Arpin?
"Loh, kok kamu kesini Pin? ada apa? " tanya Linda pada adiknya itu.
"Jemput mbak Lindalah...masa mau nongkrong di apotek?" katanya seperti biasa. Selalu ada bercandanya. Ia adalah tukang ojek pribadinya sebelum kin suaminya menggantikan posisi Arpin ( tega! )
"Kok tahu mbak masih disini?" kata Linda mulai menduga
"Yee...ngga tau...Arpin juga lagi dirumah temen. Tiba-tiba di SMS untuk jemput mbak."
Keringat dingin menjalari tubuh Linda, udara yang dingin kian menusuk-nusuk kalbunya. Tanpa tunggu perintah, Linda melompat ke motor tak dihiraukannya hujan yang masih berpesta di udara.
"Mbak, nih jas hujannya dipake!! " kata Arpin
"Udah cepet jalan!!!" kata Linda galak tiba-tiba.

Di pekarangan rumah, sebuah motor rusak berat. Sangat rusak. Hampir tak berbentuk. Motor yang baru-baru ini amat dikenalinya. Akang???
"AKAANGG!" jerit Linda merintih. Tidak kencang dan urakan...tapi cukup terdengar dan memilukan. Kontan tubuh Linda melemah lunglai bagai tak bertulang. Arpin segera menangkap tubuh limbung itu. Bingung.
"Ih..si mbak...motor rusak aja sampe pingsan..."bathinnya.

Berkunang-kunang dan sedikit silau. Itu kesan pertama ketika Linda membuka matanya. Suaminya tersenyum manis disana. Ada bahagia di wajahnya. Sontak Linda memeluk kekasihnya itu.

"Akang?? Ah, kita disurga ya? Ya Allah...begitu cepat kami meninggalkan dunia...tapi ndak apa...disurga ini...iya ngga Kang...?" berondong Linda sambil memeluk Fajri, suaminya

"Apa?? Hahahahaha...ah..eneng ada-ada aja nih. Di surga? yang bener aja?? Haahahaha..." tawa Fajri sungguhan
"Loh..." celetuk Linda menengok keadaan sekelilingnya. Ini kayak kamar rumahku..pikirnya
"Kita teh masih hidup eneng...masa gampang pisan masuk surga? wleee" reda Fajri akhirnya. Kemudian ia menceritakan kenapa sore tadi ia tak menjemput Linda. Ternyata...motor Fajri tertimpa kecelakaan. Kebetulan penumpangnya bukan Fajri sendiri, melainkan teman sekantornya yang memakai motor Fajri.

"oooh...Innalillahi, kasihan yah teman akang..tapi Alhamdulillah Akang teh selamat. Eneng belum belajar melepas Akang jauh-jauh." kata Linda sedih...semakin kuatlah rengkuhan mereka. Tiba-tiba...

"Eneng...belum makan kan? makan yuk...keluar..."
"Mauuuu...."
sambut Linda girang
"Eh iya...Kan motornya rusak"
ingat Fajri
"Akaaanggg...!"
Linda pingsan. Kelaparan!

______________________________________________________________


Hihihih...maap kalo gak nonjok, gak nendang, [ dan enggak2 laennye ] endingnya...abis...kaga ada bahan lagi.
Trus? hubungan antara isi sama judul apa? kok gak nyambung?
Ooohh...itu ya..iya-iya...emang gak ada ide juga buat judulnya. Nah..kebetulan di cerita itu, mungkin yang baca ada rasa gemes macam ini : "telpon kek, atau SMS kek"...
Itu dia...sebenernya mau diceritain...tapi gak jadi. Ntar alurnya beda lagi dong. Ngga mungkin sih, kalo bilang si Linda gak punya HaPe...jadi ceritanya...HaPenya Linda itu lagi mati lowbatt. Hehehehe...So......JANGAN TANYAKAN HAPE!!!!

0 komentar: