Malam ini ku terbangun. Ini adalah malam pertama aku tidur tanpa suami. Oh, tidak! bukan. Bukan pertama kalinya tidur tanpa suami, suamiku sering pergi keluar kota untuk tugas kantornya. Tapi pertama kalinya aku tidur terpisah dari suamiku, sementara ia ada di tempat wanita yang lain.
Ya, suamiku menikah lagi. Dengan segala berat hatiku, kulepas ia perlahan. Rasanya tak akan sanggup aku hidup tanpanya, tanpa cintanya. Kini ku masih hidup, ku kira cintanya masih ada untukku.
Perlahan aku bangkit dari ranjang, kurapihkah rambut dan mengikatnya, kemudian kulangkahkan kaki keluar kamar. Di depan kamar Umar-putra kami tersayang, ku buka pintunya. Masuk dan duduk di sampingnya.
Oh Nak...kau tahu Ummi dan Abi mencintaimu, Ummi sayang kamu nak. Kelak Ummi harap, kau dapat menemani hari Ummi saat Abi-mu tak dirumah. Ya Allah...jadikan ia anak yang sholeh, anak yang mencintai Mu, nabi Mu, dan orang tuanya ini....
Selesai mencium kening dan pipinya yang menggemaskan, ku kembali ke toilet. Wudhu, menyegarkan jiwa dan ragaku. Berusaha menyiram api cemburu yang terlalu di dadaku. Setengah mati ku upaya singkirkan gelembung amarah yang bergejolak di hatiku. Wanita itu...cantiknya melebihi diriku, ilmunya benar-benar jauh diatasku. Ya Robbi...tenangkan kalbuku....
Subahanallah, aku masih bisa melihat pagi ini. Ku kira akan mati semalam karena kesedihanku. Alhamdulillah ya Allah.... Segera ku lepas mukena yang masih kupakai sejak dini hari tadi. Ku bersihkan diri, mandi. Ah, mataku jadi sembab begini akibat semalam menangis.
Suara tangis Umar terdengar sendu dikamarnya. Kau sudah bangun nak...tunggulah Ummi. Dengan terburu kusiram badan sejadinya, membersihkan sisa busa sabun mandiku. Kemudian meraih handuk dan segera ku berlari menuju kamar Umar.
RS. Kasih Bunda, Ahad pagi yang cerah.
"kenapa Ummi ndak bilang sama Abi sih. Ya Allah Ummi...afwan Abi...sungguh, afwan Abi..." suara lembut suamiku terdengar lirih di telinga. Ku buka mata perlahan, seketika itu lelehan air mata menetes. Ku lihat tangannya mengusap perlahan. Ku tersenyum, wajahnya kian kabur dalam pandanganku, mataku semakin tak normal saja sepertinya.
Kepalaku terasa berat. Kuraba, lalu ku tahu kalau ada perban mengelilinginya. Teringat ketika pagi tadi aku terpeleset akibat terburu-buru memenuhi panggilan anakku. Duh, Gusti...faghfirlii...ampuni hamba....
"Abi...afwan, tadi pagi Umar jadi Ummi tinggal deh. Ummi jatuh tadi, padahal Umar lagi nangis. Afwan yah Bi.... Umar mana Bi?" tanyaku kemudian
"Mi...sudahlah, Umar ada di luar, di temani ummahat lain. Ummi istirahat aja dulu. Ummi harus sembuh. Harus Mi. Abi tak berdaya jika Ummi sakit begini. Lekaslah sembuh Ummi sayang...kekasihku." ucapnya bergetar. Tangisan pun tak terhindarkan. Tak kuasa ku melihat wajahnya mendung seperti itu, ini wajah terlara yang pernah kulihat darinya. Kamar rumah sakit ini terasa istana bagiku kali ini, betapa tidak...suamiku menemaniku penuh, memanja dan berdoa untukku begitu syahdu. Ku tahu cinta ini masih ada dihatinya.
"Abii...Ummi tatit apa tih, Ummi pulan nda, Umal mau bobo tama Ummi ah di tini, ya Bi ya...." Umar, anak 3 tahun kurang itu merengek ke Abinya. Seorang Abi yang di tanya hanya tersenyum pedih, diciumnya jundi kecil itu penuh cinta. "Kan ku jaga buah hati kita Mi..." gumamnya dalam hati.
"Istri anda mengalami keguguran. Usia kandungannya tiga bulan. Luka akibat jatuh ternyata membuat syaraf yang menghubungkan kerja otak dengan jantung melemah. Diagnosa kami, istri anda akan bertahan paling lama satu bulan." kata seorang dokter. Lelaki di hadapan dokter itu menunduk dalam. Air matanya seolah tak ingin henti mengalir hari itu. Faghfirlii...ya Robbana.... Kau memang lebih mencintainya Ya Robb...

0 komentar:
Post a Comment