Friday, April 11, 2008

[ Cerpen - Asal Banget ] Masih Ada Cinta

Malam ini ku terbangun. Ini adalah malam pertama aku tidur tanpa suami. Oh, tidak! bukan. Bukan pertama kalinya tidur tanpa suami, suamiku sering pergi keluar kota untuk tugas kantornya. Tapi pertama kalinya aku tidur terpisah dari suamiku, sementara ia ada di tempat wanita yang lain.

Ya, suamiku menikah lagi. Dengan segala berat hatiku, kulepas ia perlahan. Rasanya tak akan sanggup aku hidup tanpanya, tanpa cintanya. Kini ku masih hidup, ku kira cintanya masih ada untukku.

Perlahan aku bangkit dari ranjang, kurapihkah rambut dan mengikatnya, kemudian kulangkahkan kaki keluar kamar. Di depan kamar Umar-putra kami tersayang, ku buka pintunya. Masuk dan duduk di sampingnya.

Oh Nak...kau tahu Ummi dan Abi mencintaimu, Ummi sayang kamu nak. Kelak Ummi harap, kau dapat menemani hari Ummi saat Abi-mu tak dirumah. Ya Allah...jadikan ia anak yang sholeh, anak yang mencintai Mu, nabi Mu, dan orang tuanya ini....

Selesai mencium kening dan pipinya yang menggemaskan, ku kembali ke toilet. Wudhu, menyegarkan jiwa dan ragaku. Berusaha menyiram api cemburu yang terlalu di dadaku. Setengah mati ku upaya singkirkan gelembung amarah yang bergejolak di hatiku. Wanita itu...cantiknya melebihi diriku, ilmunya benar-benar jauh diatasku. Ya Robbi...tenangkan kalbuku....

****

Subahanallah, aku masih bisa melihat pagi ini. Ku kira akan mati semalam karena kesedihanku. Alhamdulillah ya Allah.... Segera ku lepas mukena yang masih kupakai sejak dini hari tadi. Ku bersihkan diri, mandi. Ah, mataku jadi sembab begini akibat semalam menangis.

Suara tangis Umar terdengar sendu dikamarnya. Kau sudah bangun nak...tunggulah Ummi. Dengan terburu kusiram badan sejadinya, membersihkan sisa busa sabun mandiku. Kemudian meraih handuk dan segera ku berlari menuju kamar Umar.

****

RS. Kasih Bunda, Ahad pagi yang cerah.

"kenapa Ummi ndak bilang sama Abi sih. Ya Allah Ummi...afwan Abi...sungguh, afwan Abi..." suara lembut suamiku terdengar lirih di telinga. Ku buka mata perlahan, seketika itu lelehan air mata menetes. Ku lihat tangannya mengusap perlahan. Ku tersenyum, wajahnya kian kabur dalam pandanganku, mataku semakin tak normal saja sepertinya.

Kepalaku terasa berat. Kuraba, lalu ku tahu kalau ada perban mengelilinginya. Teringat ketika pagi tadi aku terpeleset akibat terburu-buru memenuhi panggilan anakku. Duh, Gusti...faghfirlii...ampuni hamba....

"Abi...afwan, tadi pagi Umar jadi Ummi tinggal deh. Ummi jatuh tadi, padahal Umar lagi nangis. Afwan yah Bi.... Umar mana Bi?" tanyaku kemudian

"Mi...sudahlah, Umar ada di luar, di temani ummahat lain. Ummi istirahat aja dulu. Ummi harus sembuh. Harus Mi. Abi tak berdaya jika Ummi sakit begini. Lekaslah sembuh Ummi sayang...kekasihku." ucapnya bergetar. Tangisan pun tak terhindarkan. Tak kuasa ku melihat wajahnya mendung seperti itu, ini wajah terlara yang pernah kulihat darinya. Kamar rumah sakit ini terasa istana bagiku kali ini, betapa tidak...suamiku menemaniku penuh, memanja dan berdoa untukku begitu syahdu. Ku tahu cinta ini masih ada dihatinya.

****

"Abii...Ummi tatit apa tih, Ummi pulan nda, Umal mau bobo tama Ummi ah di tini, ya Bi ya...." Umar, anak 3 tahun kurang itu merengek ke Abinya. Seorang Abi yang di tanya hanya tersenyum pedih, diciumnya jundi kecil itu penuh cinta. "Kan ku jaga buah hati kita Mi..." gumamnya dalam hati.

****

"Istri anda mengalami keguguran. Usia kandungannya tiga bulan. Luka akibat jatuh ternyata membuat syaraf yang menghubungkan kerja otak dengan jantung melemah. Diagnosa kami, istri anda akan bertahan paling lama satu bulan." kata seorang dokter. Lelaki di hadapan dokter itu menunduk dalam. Air matanya seolah tak ingin henti mengalir hari itu. Faghfirlii...ya Robbana.... Kau memang lebih mencintainya Ya Robb...

[ Cerpen - Asal Banget ] Bunga di Hati Lastri

Gelapnya jalan di areal kampus UIN Ciputat ini cukup bikin Lastri telat pulang. Loh kok? Iya, pasalnya Lastri jadi ngga jelas lihat nomor operasi angkutan kota yang melintas cepat di depannya. Sekalinya berhasil nyetop angkot, ternyata bukan jurusan yang ia kehendaki.

Kali ini entah yang keberapa kalinya ia menyetop angkot yang dimaksud. Akhirnya ia dapat juga, mobil putih yang mirip roti tawar itu. Memang, pada jam-jam seperti ini angkutan dengan nomor operasi 02 sudah cukup jarang, selain tentunya ia melewatkannya tadi.

Kakinya melangkah naik ke mobil itu, dengan kepala tertunduk agar tak terjedot pintu atasnya, Lastri masuk ke dalamnya. Berjalan ruku dan mencari tempat kosong. Yak!! dapat, batinnya. Ia pun segera duduk sebelum terhuyung karena angkot yang sudah mulai meluncur membelah jalan.

Kejadian beberapa jam silam membuatnya tersenyum-senyum saat ini. Diusianya yang masih terbilang muda ini, ia sudah ditawari 'calon' oleh kakak mentornya di SMA dulu. Sekarang, ia sendiri masih sering bertemu dengan kak Rohati, mentornya itu karena mereka masih mengabdikan diri di ROHIS sekolah itu.

"Semua terserah anti, ngga ada yang memaksa kok. Di istikhorohkan aja dulu, jangan terlalu buru-buru." kata Kak Rohati usai menyerahkan map coklat.

"Iya kak, ana mengerti..." dan hanya itu kata yang bisa Lastri ucapkan. Hatinya berdegup, Bibirnya kelu, perasaannya membuncah-buncah. Mudah-mudahan bumi tidak kiamat dulu...candanya sendiri dalam hati.

Tangan Lastri reflek mengurai jalinan tali map coklat di tangannya. setelah terbuka, Lastri tersadar bahwa kini ia tengah di angkot. Ops, tangannya kembali mengikat tali itu seperti semula.

Angkot malam itu begitu panas dirasanya. Ia segera membuka jendela yang ada dibelakangnya. O ow! kok susah ya? macet!
"Permisi mbak, biar saya bantu..."tawar seorang laki-laki yang duduk disampingnya
Lastri terbengong sesaat, wah...jadi aku duduk disamping seorang laki-laki toh, bisiknya dalam hati.
"Mbak? mau dibuka kan jendelanya?"ulang laki-laki itu
"Eh..Oh, iya iya.."jawab Lastri kaku. Hihihi...ini laki-laki familiar banget yah, kayaknya ikhwan deh, pikir Lastri mengembara. Ih jahil ah...tawanya sendiri dalam hati.

*****

"Jam 4 sore di rumah ana" demikian SMS dari kak Rohati
Fyuhh...hari ini Lastri benar-benar ndredeg. Ya! hari ini ta'aruf dilangsungkan. Haduh-haduh...berjuta rasa tertaburkan dihati Lastri. Mendadak ia jadi bingung, pake baju yang mana yah? Lastri tersenyum sendiri dalam hati.

Rumah kak Rohati tampak seperti taman hari ini. Seolah bunga-bunga bertaburan disetiap sisi tembok dan atapnya. Lastri jadi geli sendiri memikirkan tingkahnya hari ini. Kakinya sekarang seperti diikat beban 10 kilo besi, seperti yang biasa dikenakan narapidana di kartun-kartun, walaupun hatinya begitu mantap menyongsong saat-saat ini. Kebulatan hasil istikhoroh dan kesediaan keluarga yang turut mendukung menambah semangatnya.

"Assalamualaikum..."ucap Lastri takut-takut-malu
"Walaikumussalam warohmatulloh..."jawab suara dari dalam
"Masuk Ukh..."sambut kak Rohati ramah seperti biasa.
Begitu di dalam, Lastri larut dalam tundukan malunya. Benar-benar lumpuh rasanya leher Lastri. Susah sekali mendongak, sekalipun hanya untuk melirik 'calon'nya, dimana duduknya dan bagaimana wajahnya. Kebetulan Lastri sengaja tidak melihat lama-lama foto yang ada di map coklat minggu lalu. Lastri hanya membaca profile ikhwan yang disodorkan padanya. Biar greget pikirnya...kejutaaaannn..hehehe....

"Ukh...cari apa dibawah?" suara laki-laki terdengar dari seberang tempat duduknya.
"Yah?"tanya Lastri spontan sambil menatap wajah si penanya.
"Dug! waks...jantung Lastri serasa merosot ke dengkul saat ia bertatap muka dengan orang yang kini berpredikat 'calon' baginya. Huhuhuhu....maluuu....

Tapi kok, seperti kenal...pikir Lastri
"Hmm...ngga kok, lantainya bagus ya..."jawab Lastri asal *banget!*. Sengaja ia meluangkan waktu dan mencari alasan untuk bisa menegaskan pandangannya.
Hah!!? Orang itu...?

"Permisi mbak, biar saya bantu..."
"Mbak? mau dibuka kan jendelanya?"
"Eh..Oh, iya iya.."

Kejadian minggu lalu berjingkrak-jingkrak dipikirannya. So...dia....

[ Cerpen - Asal Banget ] Jangan Tanyakan Hape

Hujan lebat mengguyur Jakarta malam ini, khususnya bagian Jakarta yang Linda diami sekarang. Jarum pendek Gucci mungil menunjuk tegas angka 7 dan jarum panjangnya sendiri persis menuding angka 12. Sudah 2 jam ia menunggu. Namun yang ditunggu belum menunjukkan tanda-tanda kedatangannya.

Ini hari pertama ia masuk kerja setelah seminggu lalu pernikahannya berlangsung. Suaminya memang mengizinkannya tetap bekerja, selain karena masih 'berdua', akhwat yang dicalonkan Linda untuk menggantikannya di apotek juga belum bisa masuk. Disamping itu, suaminya juga akan mengantar jemput Linda, jadi dirasa tak ada yang riweuh. Toh, Linda juga hanya tinggal menunggu penggantinya datang. Setelah itu, ia akan di boyong ke tempat tinggal suaminya. Tetangga kota Jakarta.

Jarum-jarum jam kian bergeser. Membawa temaram membungkus angkasa. Walau masih ada beberapa orang lalu lalang, tapi terasa hening bagi Linda, menunggu suaminya tercinta. Mata itu kini mulai berkabut, tinggal menunggu sebuah kerjapan saja ia akan longsor menggelundung, menjadi bulir mutiara bening yang meluncur cepat dan menabrak benda yang tepat di bawah titik jatuhnya.

Ragu hati Linda ingin membawa langkah kaki. Hari telah beranjak renta, tapi suaminya belum kunjung datang juga.

"Aduh, Akang kemana sih..." lagi-lagi kata itu terucap. Bergetar. Namun kali ini keluar dari bibirnya. Linda benar-benar menangis sekarang. Tak peduli orang lewat mau bilang apa.

Lelah berdiri, akhirnya Linda duduk, setelah bertekad akan terus berdiri sampai suaminya datang di hadapannya. Sebenarnya kakinya sangat ingin berlari pulang ke rumah, tapi ia takut suaminya nanti menjemput. Jarak Bogor - Jakarta Selatan memang tidak dekat. Kasihan jika suaminya tak mendapati ia menunggu manis di sini.

Di rumah tadi suaminya bilang akan sampai sekitar pukul 5, memang ini pengalaman pertama jemput menjemput di antara mereka, wajarlah telat sedikit. Tapi yang membuat Linda gemas adalah angka 2 jam lamanya ia menunggu. Harap, takut, cemas menjelma di benaknya. Segera ia tendang jika ada pikiran buruk yang menjawil kulit hatinya. Ia gantikan dengan doa dan harapan agar suaminya cepat datang. Dengan SELAMAT.

~oOo~

Kepala Linda kini tenggelam di kedua lututnya. Merembeskan air-air mata ke pori-pori rok hijau olivenya. Ia inginnya menyambut sang suami dengan senyum, karena ia tahu suaminya juga pasti lelah mengemudi Bogor - Jakarta. Setidaknya ia ingin suaminya nyaman memandangnya. Sedikit melepas penat meski sesaat.

Deru motor terdengar berhenti di depannya. Perlahan diangkat kepalanya. Arpin?
"Loh, kok kamu kesini Pin? ada apa? " tanya Linda pada adiknya itu.
"Jemput mbak Lindalah...masa mau nongkrong di apotek?" katanya seperti biasa. Selalu ada bercandanya. Ia adalah tukang ojek pribadinya sebelum kin suaminya menggantikan posisi Arpin ( tega! )
"Kok tahu mbak masih disini?" kata Linda mulai menduga
"Yee...ngga tau...Arpin juga lagi dirumah temen. Tiba-tiba di SMS untuk jemput mbak."
Keringat dingin menjalari tubuh Linda, udara yang dingin kian menusuk-nusuk kalbunya. Tanpa tunggu perintah, Linda melompat ke motor tak dihiraukannya hujan yang masih berpesta di udara.
"Mbak, nih jas hujannya dipake!! " kata Arpin
"Udah cepet jalan!!!" kata Linda galak tiba-tiba.

Di pekarangan rumah, sebuah motor rusak berat. Sangat rusak. Hampir tak berbentuk. Motor yang baru-baru ini amat dikenalinya. Akang???
"AKAANGG!" jerit Linda merintih. Tidak kencang dan urakan...tapi cukup terdengar dan memilukan. Kontan tubuh Linda melemah lunglai bagai tak bertulang. Arpin segera menangkap tubuh limbung itu. Bingung.
"Ih..si mbak...motor rusak aja sampe pingsan..."bathinnya.

Berkunang-kunang dan sedikit silau. Itu kesan pertama ketika Linda membuka matanya. Suaminya tersenyum manis disana. Ada bahagia di wajahnya. Sontak Linda memeluk kekasihnya itu.

"Akang?? Ah, kita disurga ya? Ya Allah...begitu cepat kami meninggalkan dunia...tapi ndak apa...disurga ini...iya ngga Kang...?" berondong Linda sambil memeluk Fajri, suaminya

"Apa?? Hahahahaha...ah..eneng ada-ada aja nih. Di surga? yang bener aja?? Haahahaha..." tawa Fajri sungguhan
"Loh..." celetuk Linda menengok keadaan sekelilingnya. Ini kayak kamar rumahku..pikirnya
"Kita teh masih hidup eneng...masa gampang pisan masuk surga? wleee" reda Fajri akhirnya. Kemudian ia menceritakan kenapa sore tadi ia tak menjemput Linda. Ternyata...motor Fajri tertimpa kecelakaan. Kebetulan penumpangnya bukan Fajri sendiri, melainkan teman sekantornya yang memakai motor Fajri.

"oooh...Innalillahi, kasihan yah teman akang..tapi Alhamdulillah Akang teh selamat. Eneng belum belajar melepas Akang jauh-jauh." kata Linda sedih...semakin kuatlah rengkuhan mereka. Tiba-tiba...

"Eneng...belum makan kan? makan yuk...keluar..."
"Mauuuu...."
sambut Linda girang
"Eh iya...Kan motornya rusak"
ingat Fajri
"Akaaanggg...!"
Linda pingsan. Kelaparan!

______________________________________________________________


Hihihih...maap kalo gak nonjok, gak nendang, [ dan enggak2 laennye ] endingnya...abis...kaga ada bahan lagi.
Trus? hubungan antara isi sama judul apa? kok gak nyambung?
Ooohh...itu ya..iya-iya...emang gak ada ide juga buat judulnya. Nah..kebetulan di cerita itu, mungkin yang baca ada rasa gemes macam ini : "telpon kek, atau SMS kek"...
Itu dia...sebenernya mau diceritain...tapi gak jadi. Ntar alurnya beda lagi dong. Ngga mungkin sih, kalo bilang si Linda gak punya HaPe...jadi ceritanya...HaPenya Linda itu lagi mati lowbatt. Hehehehe...So......JANGAN TANYAKAN HAPE!!!!

MP-kuh... gimana nasibmuh..


Hu hu hu hu hu... emangnya MP di ban ya? kok gak bisa buka MP siiiiyyhh...
Hari ini bisa buka sih, tapi itu juga pake alat dari temen... pake www.spysurfing.com .

Jadi ngeri... sekarang lagi mau ngungsiin tulisan MP ke Blogger nih.. Hehehe.... abisnya sayang siiih... :p

Sipp... mau bongkar-bongkar dulu aaaaah :p